Breaking News

Merobek Poster Ayatollah Ali Khamenei Pemuda Iran Ditembak Mati Aparat


Kareba Madrasah - 
Aparat keamanan Iran menembak mati seorang pria berusia 21 tahun saat unjuk rasa di kota Amol bulan lalu. Sebelum dibunuh pemuda itu tampak merobek poster pemimpin spiritual Syiah Iran tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.


Erfan Rezaei terekam kamera merobek poster yang ditempel pemerintah yang menunjukkan potret pentolan Syiah sesaat sebelum dia dibunuh pada 21 September, kata sebuah sumber yang dekat dengan keluarga Rezaei kepada BBC Persian Senin (24/10/2022).


Dia ditembak di bahu dan punggungnya dengan pistol dari jarak dekat, tambah mereka.


Para pejabat belum berkomentar, tetapi sumber itu mengatakan keluarga Rezaei ditekan untuk mengatakan bahwa para pengunjuk rasa membunuhnya.


Aksi protes menentang aparat dan pemerintah merebak di berbagai daerah di Iran sejak kematian Mahsa Amini, gadis Kurdi berusia 22 tahun yang tewas akibat kebrutalan polisi moral di Teheran yang menangkapnya dengan tuduhan tidak mengenakan hijab sebagaimana mestinya.


Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah organisasi aktivis di Iran, memperkirakan sejauh ini 248 pengunjuk rasa, termasuk 33 anak-anak, dibunuh oleh aparat keamanan Iran.


Ibu dari Erfan, Farzaneh Barzekar, diberitahu oleh petugas bahwa dia dirawat di rumah sakit tidak lama setelah unjuk rasa tersebut, kata sumber itu kepada BBC.


Para perawat di rumah sakit tidak mau memberitahu di mana putranya dirawat, tetapi setelah tiga jam mencari dia menemukan pakaian anaknya yang berlumuran darah di luar ruang operasi. Wanita itu langsung pingsang, kata sumber tersebut.


Sumber tersebut mengatakan Erfan meninggal karena kerusakan parah pada ginjal dan limpa akibat luka tembak di punggungnya. Peluru itu ditembakkan dengan pistol dari jarak 5m (16 kaki), imbuh mereka.


Pihak berwenang menyerahkan mayat Erfan kepada keluarganya dua hari kemudian dengan syarat mereka mengadakan pemakaman yang tidak mengundang keramaian dan perhatian publik, menurut sumber itu.


Aparat keamanan juga menekan mereka agar mengatakan bahwa Erfan adalah seorang pejalan kaki yang ditembak mati oleh “perusuh” – sebutan para pejabat pemerintah untuk demonstran.


Sumber itu juga mengatakan bahwa keluarga Erfan diperbolehkan menyelenggarakan pemakamannya karena ayahnya adalah seorang veteran Perang Iran-Iraq, yang hingga kini masih mengalami dampak paparan senjata kimia dan post-traumatic stress disorder (PTSD). Orang Iran menghormati mereka yang ikut berperang dalam konflik 1980-1988 itu, di mana lebih dari satu juta orang tewas.


“Setiap hari, aku memandangi fotomu selama berjam-jam dan menangis. Aku melihat tempat tidur kosongmu dan buku-bukumu. Aku membaca buku-buku itu dengan suara keras di tempat tidurmu yang kosong,” tulis ibunda Erfan di akun Instagram dua pekan lalu, disertai sebuah video makamnya.


Keluarga dari beberapa pemuda pengunjuk rasa lainnya yang diduga dibunuh oleh aparat keamanan selama kerusuhan belakangan ini mendapat tekanan serupa dari pihak berwenang.


Pekan lalu, sejumlah sumber mengatakan kepada BBC Persian bahwa keluarga  Abolfazl Adinezadeh, pemuda berusia 17 tahun yang ditembak mati dari jarak sangat dekat saat unjuk rasa di Mashad pada 8 Oktober, mengatakan mereka ditekan untuk mengatakan bahwa remaja itu anggota Basij, kelompok paramiliter pro-rezim yang terlibat dalam aksi kekerasan terhadap warga Iran.*


Rep: Ama Farah

Editor: Dija


0 Komentar

zumardiidra03
295
© Copyright 2023 - Bakal Beda