Breaking News

Entri yang Diunggulkan

Derit Palik-palik dan Narasi Petani Bonto Salama


Seorang anak memainkan Palik-palik disela-sela acara pembukaan festival Palik-palik di Desa Bonto Salama. (foto: ZAR/sinjaiinfo)



Palik-palik dibuat untuk menjaga keseimbangan alam. Tidak sepenuhnya untuk mengusir hama di sawah. Seperti titipan narasi Petani pada hama melalui derit Palik-palik, “allei bageannu mingka nanroang tongi tomalinoa, ka para elok toha tuo” – “Makanlah bagianmu, tetapi sisakan juga untuk kami manusia, karena kita sesama mahluk sama-sama ingin hidup”.


Penulis: Zainal Abidin Ridwan


Angin bertiup cukup kencang. Derit Palik-palik yang terpancang di rumah-rumah sawah membelah sunyi malam. Waktu sudah menunjukkan jam 8.45 malam. Belum ada tanda-tanda listrik akan menyala. Sepertinya gelap akan lama di pematang sawah Desa Bonto Salama, Kecamatan Sinjai Barat. Padahal sejatinya malam akan dihantar dengan pementasan teater pematang sawah dari Komunitas Tobonga.


Festival Palik-palik atau Baling-baling kayu berjalan tidak sesuai rencana. Listrik padam, dan hujan yang awet menjadi warna di malam pertama. Semua acara pementasan dialihkan keesokan paginya: Minggu, 4 September 2022.


Cuaca cukup cerah saat pagi menyapa. Peserta kemah ekologi dan pengunjung festival tersenyum semringah. Pendiri Komunitas Tobonga, sang pemilik hajatan, Abidin Wakur lalu mengarahkan pemandu dan pengisi acara untuk segera bersiap. Prosesi pembukaan Festival Palik-palik akhirnya dimulai.


“Kegiatan ini adalah Festival Palik-palik. Palik-palik atau Baling-baling adalah kearifan lokal masyarakat di Desa Bonto Salama, di mana gunanya untuk mengusir hama padi di sawah. Selain itu, Palik-palik sarat akan pesan seperti kapan harus statis, kapan mesti bergerak lambat, dan bergerak cepat dalam mengarungi hidup,” ucap Abidin Wakur mengawali sambutannya.


Sastrawan ini menambahkan, Palik-palik adalah wahana permainan anak, pengusir hama ramah ekologi, dan media hiburan. Hanya sekira Empat orang warga di Bonto Salama yang menguasai ilmu membuat Baling-baling kayu ini. Salah satunya bernama Puang Sakka. Tak mudah membuat Palik-palik. Belum lagi jenis kayu yang digunakan, haruslah kayu pilihan dari jenis tertentu. Kata Abidin, yang bisa dibuat Palik-palik adalah kayu yang bisa diserut seperti kayu Waru, Lambiri, dan Banyoro. Jenis kayu tersebut sifatnya ringan, lentur, tidak dimakan rayap, dan tidak mudah patah ketika diterpa angin kencang.



Palik-palik dipasang di rumah-rumah sawah (foto: ZAR/sinjaiinfo)



Palik-palik dikatakan berkualitas jika bunyi yang dihasilkan tidak hanya satu, tetapi dua jenis bunyi yang ditimbulkan sekaligus. Bunyi pertama adalah gecuk (derit) yang berasal dari gesekan sumbu yang terbuat dari bambu dengan bilah kayu untuk tempat berputarnya. Bunyi kedua adalah mummung (bunyi keras dan berirama) berasal dari gesekan antara angin dengan bilah palik-palik yang lentur.


“Sebelum diperkenalkannya pertanian modern, petani hanya mengandalkan alam semata. Untuk membuat tanaman padi mereka subur dan berbuah lebat, maka mereka hanya menggunakan cara-cara yang alami. Salah satunya Palik-palik,” tambah Pendiri Komunitas Tobonga, Abidin Wakur.


Bagi para petani di Desa Bonto Salama, Palik-palik biasanya dipasang di areal pematang sawah atau di pucuk pohon. Untuk memasangnya, Palik-palik terlebih dahulu ditempatkan di ujung sebatang bambu panjang dengan posisi vertikal. Tujuannya agar mudah mendapatkan tiupan angin.


Jika dipasang di persawahan, Palik-palik akan dipasang ketika padi sudah mulai keluar buah, bersamaan dengan kurangnya curah hujan. Jika dipasang dalam jumlah yang banyak, maka areal persawahan akan ramai oleh bunyi palik-palik yang bersahut-sahutan. Bunyi yang dihasilkan saat ditiup angin, tergantung oleh tingkat keahlian pembuatnya. Semakin tinggi keahlian seseorang, maka semakin keras, berirama, dan merdu bunyi yang ditimbulkan.


Sarat dengan Filosofi Hidup


Secara fisik, Palik-palik adalah benda yang panjangnya 145 cm, dan lebarnya 4 cm. Di bagian tengah terdapat bilah bambu yang menjadi sumbu sekaligus pemisah antara bilah satu dengan bilah lainnya. Panjang bambu tersebut 14 cm dan diameternya 2,5 cm. Bilah bambu itu terpasang pada lubang berbentuk segi empat. Pada poros tengah yang dipasangi bambu, terdapat bagian yang sengaja dibuat tebal sepanjang 14 cm.


Namun Palik-palik bukan sekadar tampilan fisik dan bunyi semata. Petani di Desa Bonto Salama membuat Palik-palik untuk mengajarkan sejak dini kepada anak-anak agar tangan mereka terampil mengolah kayu menggunakan parang. Selain itu anak-anak dilatih sifat parrang (ulet), gattang (teguh), dan sabbaraq (sabar). Hanya mereka yang memiliki sifat-sifat itulah yang akan bisa menghasilkan Palik-palik yang bagus. Sifat-sifat tersebut menjadi modal dasar agar bisa menjadi petani yang sukses.


Puang Sakka, maestro Palik-palik dari Bonto Salama, pada sesi dialog ekologi menjelaskan, Palik-palik sebagai permainan tradisional sudah ada sejak lama, namun akan punah kalau tidak dikenalkan ke anak-anak sekarang. Jika dikenalkan maka mereka bisa belajar tentang filosofi hidup sebagai petani.



Puang Sakka, maestro Palik-palik Desa Bonto Salama menyerahkan Palik-palik buatannya kepada penulis (baju hitam) saat acara penutupan festival Palik-palik. (foto: agusman/sinjaiinfo)



Desa Bonto Salama berada di ketinggian 500 hingga 2000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai Petani, dan ini didukung dengan luasnya lahan pertanian di Desa tersebut. Abidin Wakur adalah satu dari sekian banyak petani yang ada di Bonto Salama. Namun setiap panen padi usai, ia berubah menjadi seniman dan menyulap lahannya menjadi tempat menuangkan ekspresi seni berlandaskan kearifan lokal masyarakat setempat.


Mereka yang hadir di Festival Palik-palik senang dengan kiprah Abidin Wakur dalam memaksimalkan potensi yang ada didesanya. Sebut saja misalnya Anies Kurniawan, seorang penulis dan pendiri klikhijau.com. Juga ada pegiat seni Ian Konjo, Seniman bambu Sinjai Arfandi Jalil, serta James, seorang pakar ekologi dan pemerhati Gunung Bawakaraeng.


Bahkan James, pada sesi dialog mengatakan di Bonto Salama sebagai bagian dari alam raya terjadi proses Rantai Kehidupan. Ia tidak sepakat dengan istilah pakem selama ini, yaitu Rantai Makanan atau proses saling makan memakan. Sejatinya kata James, proses makan memakan semua mahluk tersebut bukan untuk melukai, tapi memberi kehidupan satu sama lain.


Ucapan James tersebut selaras dengan titipan narasi Petani Bonto Salama pada hama melalui derit Palik-palik, “allei bageannu mingka nanroang tongi tomalinoa, ka para elok toha tuo” – “Makanlah bagianmu, tetapi sisakan juga untuk kami manusia, karena kita sesama mahluk sama-sama ingin hidup”. (*)


 



The post Derit Palik-palik dan Narasi Petani Bonto Salama first appeared on Sinjai Info.



source https://sinjai.info/derit-palik-palik-dan-narasi-petani-bonto-salama/

0 Komentar

zumardiidra03
295
© Copyright 2023 - Bakal Beda