Breaking News

Entri yang Diunggulkan

Pemerintah Indonesia Klarifikasi Soal Skripsi untuk Lulus S1, Apakah S1 di Amerika Serikat Lebih Santai?

Kiri ke kanan: Elena Aniko, Febrianne Daneswary, dan Raina Abigail Putri.

Bakalbeda.com
- Dalam sebuah pernyataan resmi, Menteri Pendidikan Indonesia, Nadiem Makarim, memberikan klarifikasi penting terkait persyaratan kelulusan S1 di Indonesia.

Pernyataan ini muncul setelah munculnya topik viral tentang kemungkinan penghapusan kewajiban skripsi untuk lulus S1.

Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak menghapus kewajiban skripsi, tetapi memberikan kewenangan kepada perguruan tinggi untuk menentukan syarat kelulusan.

Artikel ini akan menggambarkan perbedaan antara persyaratan kelulusan S1 di Indonesia dan Amerika Serikat, dengan fokus pada pengalaman tiga warga Indonesia yang lulus S1 tanpa skripsi di Amerika Serikat.

Menteri Nadiem Makarim menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak menghapus kewajiban skripsi untuk lulus S1.

Sebaliknya, pemerintah memberikan perguruan tinggi otoritas untuk menentukan persyaratan kelulusan mereka.

Ini merupakan respons terhadap kekhawatiran dan spekulasi yang muncul di media sosial mengenai penghapusan skripsi.

Namun, jika kita membandingkannya dengan sistem pendidikan di Amerika Serikat, kita dapat melihat perbedaan yang signifikan.

Menurut Coursera dan sejumlah universitas di AS, mahasiswa di sana harus menyelesaikan minimal 120 satuan kredit semester (SKS) dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 2.00 dari 4.00 untuk mendapatkan gelar S1 atau bachelor's degree.

Beberapa universitas bahkan mengharuskan minimal 128 SKS, seperti Harvard dan New York University.

Untuk lebih memahami pengalaman mahasiswa yang lulus S1 tanpa skripsi di Amerika Serikat, kami berbicara dengan tiga warga Indonesia yang baru-baru ini menyelesaikan pendidikan mereka di sana.

Pengalaman Mahasiswa:

Kami berbicara dengan Elena Aniko (University of Maryland - jurusan Neurobiology & Physiology), Raina Abigail Putri (Biola University - jurusan Teater), dan Febrianne Daneswary (Michigan State University - jurusan Ekonomi) yang semuanya lulus S1 tanpa skripsi.

Mereka menjelaskan bahwa di semester terakhir mereka, mereka harus mengambil sejumlah kelas dan menyelesaikan proyek akhir yang berbeda-beda sesuai dengan jurusan mereka.

Elena mengambil 5 kelas, termasuk riset independen tentang gen kanker. Raina mengambil 3 kelas Teater dan 2 kelas Teologi, serta melakukan pertunjukan teater.

Febrianne mengambil total 4 kelas, termasuk proyek analisa data dan presentasi ekonomi.

Ketika ditanya apakah mereka merasa lebih santai tanpa skripsi, mereka memiliki pandangan yang berbeda.

Elena merasa lebih santai dibandingkan dengan teman-temannya yang harus menyelesaikan skripsi. 

Namun, Raina dan Febrianne merasa tetap sibuk karena memiliki berbagai proyek dan ujian yang harus diselesaikan.

Meskipun kontroversi seputar kewajiban skripsi untuk lulus S1 di Indonesia, Menteri Nadiem Makarim telah memberikan klarifikasi bahwa skripsi tetap menjadi bagian dari pendidikan tinggi.

Namun, perbandingan dengan persyaratan kelulusan S1 di Amerika Serikat menunjukkan perbedaan signifikan dalam pendekatan pendidikan.

Mahasiswa Indonesia yang lulus S1 tanpa skripsi di Amerika Serikat harus menghadapi berbagai proyek akhir dan ujian sesuai dengan jurusan mereka.

Pendapat tentang pentingnya skripsi untuk lulus S1 tetap menjadi subjek perdebatan, dengan pandangan yang beragam dari mahasiswa yang telah mengalami kedua sistem pendidikan ini.***

Author: Azzam
Google News

0 Komentar

zumardiidra03
295
© Copyright 2023 - Bakal Beda