Breaking News

Mengenal Pertempuran Zallaqah:  Perang Menumpas Makar Raja Alfonso VI

Pertempuran Zallaqah atau Batle of Sagrajas, pertempuran yang dipimpin Yusuf Bin Tasyfin memusnahkan tentara Kristen (Badajoz) yang dipimpin Raja Alfonso VII, penguasa Leon-Castilla yang berniat melakukan makar


Hidayatullah.com | HARI ini menandai Pertempuran Zallaqah (Baca; Zalaqoh) di bumi Andalusia, yang menyaksikan semangat jihad dan ghirah yang memenuhi dada umat muslim yang dipimpin Panglima Yusuf Bin Tasyfin. Perang Zallaqah (Barat menyebutnya Battle of Sagrajas) terjadi di daerah bermedan licin dekat Badajoz, Andalusia.


Pertempuran Zallaqah termasuk pertempuran besar yang sangat berpengaruh dalam menentukan sejarah Islam di Andalusia.  Pertempuran Zallaqah terjadi karena keinginan para penguasa dinasti kecil mempertahankan daerahnya dari serangan Alfonso VI, penguasa Leon-Castilla (1069-1109 M).


Pertempuran yang terjadi pada hari Jum’at 479 H atau bertepatan 23 Oktober 1086 M yang dimenangkan pasukan muslim. Yusuf Bin Tasyfin sendiri saat itu berusia 70 tahun.


Bagaimana kisah ini terjadi? Dan bagaimana riwayat hidup Yusuf Bin Tasyfin dan Dinasti Murabithun di Afrika Utara?


Yusuf Bin Tasyfin menumpas penghianatan Raja Alfonso VI


Pada Abad XI, Dinasti Umayyah II, di Andalusia mengalami masa kemunduran. Ini ditandai dengan kekhalifahan yang berusia pendek dari tahun 705-715 M. (E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, terj. Ilyas Hasan (Edinburgh University Press, 1980). Selain itu, banyak bermunculan dinasti-dinasti kecil yang memiliki hak otonom dan semi otonom atas kekuasaannya sendiri (al-Muluk ath-Thawaif) dengan melepaskan diri dari kekuasaan Dinasti Umayyah II di Cordova. (Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Bagaskara, 2015).


Pada tahun 422 H/1031 M Dinasti Umayyah II runtuh pada masa khalifah terakhir Dinasti umayyah II yaitu Khalifah Hisyam II Bin Muhammad III. (Sya’roni, Peradaban Islam masa Bani Umayyah II, p. 82). Dinasti-dinasti kecil di Andalusia terdiri dari berbagai suku yang mencerminkan keberagaman kelas-kelas militer di bawah Dinasti Umayyah II, ketegangan etnis, dan persaingan di antara mereka.


Bani Abbad di Seville (414-484 H/1023-1090 M) berasal dari suku Arab. Dinasti-dinasti lainnya seperti Bani Dhu Al-Nundi Toledo (428-478 H/1035-1085 M), Dinasti Afthasiyyah di Badajoz, bagian Barat Andalusia (413-487 H/ 1022-1094 M), dan Dinasti Ziri di Granada (403-483 H/1012-1090 M) berasal dari suku Berber.



Pada masa Dinasti-dinasti kecil, memperebutkan wilayah kekuasaan menjadi hal yang biasa, sehingga terjadi perpecahan dan pertentangan. Konflik antara dinasti-dinasti kecil terjadi karena klaim wilayah antara dua penguasa, sehingga beberapa dari dinasti-dinasti kecil yang sudah berdiri tidak dapat bertahan lama.


Di sisi lain, kerajaan- kerajaan Nasrani yang berdiri di Andalusia juga saling berselisih meminta bantuan kepada penguasa-penguasa Muslim Andalusia, begitu juga sebaliknya. (E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, terj. Ilyas Hasan (Edinburgh University Press, 1980).


Kerajaan-kerajaan Nasrani yang sebelumnya saling berselisih pada tahun 466 H/1072 M akhirnya bersatu di bawah satu penguasa, yaitu Alfonso VI. Bersatunya kerajaan Nasrani mendapat dukungan dari para pendeta gereja dan dimulailah Gerakan Reconquista, merupakan gerakan penaklukkan kembali Nasrani (Kristen) atas wilayah


kekuasaan Muslim Andalusia. Alfonso VI memanfaatkan kekacauan yang terjadi di Selatan Andausia antara dinasti-dinasti kecil dengan cara merebut benteng-benteng satu persatu.


Puncaknya terjadi saat jatuhnya Toledo ke tangan Alfonso VI pada tahun 478 H/1085 M. Jatuhnya Toledo semakin mempersempit peta pemerintahan Islam di Andalusia.


Dengan jatuhnya Toledo mengantarkan para penguasa dinasti kecil untuk meminta bantuan kepada Yusuf Bin Tasyfin, penguasa al-Murabithun di Maghrib (sekarang Maroko dan sekitarnya). (Philip K. Hitti, History of The Arabs, terj. R. Cecep ukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006). Permintaan ini di terima oleh Yusuf Bin Tasyfin.


Yusuf Bin Tasyfin memiliki nama lengkap Tasyfin Bin Ibrahim Al-Mushlihi As-Sonhaji Al-Lamtuhi Al-Humairi dengan nama panggilan Abu Yaqub yang dijuluki rajanya orang-orang berhijab. (Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007). Ia merupakan keponakan dari Abu Bakar Bin Umar (1059-1061), salah satu pendiri Dinasti Al-Muratbithun. (Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Mediad Group, 2011).


Sepeninggal Abu Bakar, Yusuf Melanjutkan upaya penaklukan ke Wilayah Utara Afrika dan dibangunlah kota Marrakesh untuk dijadikan pusat pemerintahan. Sementara itu upaya penaklukan wilayah-wilayah lain terus dilakukan hingga pada tahun 1070 M, ia menguasai Fez, delapan tahun kemudian ia menguasai Tangier dan selanjunya pada tahun 1080 M sampai dengan tahun 1082 M, ia meluaskan kekuasaannya sampai ke wilayah Aljazair.(Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2004).


Tidak sampai disitu saja Yusuf bin Tasyfin berhasil menyebrang ke Andalusia, dimana keberangkatannya ke Andalusia atas undangan Raja Sevilla Al-Mutamid bin Abbad yang kekuasaanya terancam oleh raja Alfonso VI. Begitu Yusuf Bin Tasyfin menginjakkan kakinya di Bumi Andalusia, lalu memasuki Sevilla, orang-orang menyambutnya berikut anggota rombongannya sebagai pasukan penakluk.



Panglima Yusuf Bin Tasyfin komandan Perang Zallaqah atau Battle of Sagrajas di Badajoz Andalusia (Ilustrasi)


Selanjutnya ia menuju ke Badajoz yang letaknya dekat dengan daerah Zallaqah yang telah diduduki oleh Alfonso VI. Yusuf Bin Tasyfin menangkap adanya makar dalam surat Raja Alfonso VI.


Dipersiapkan prajurit sebagaimana rencana awal. Pada malam harinya, yaitu pada malam Jum’at 12 rajab 479 H / 22 Oktober 1086 M. Imam Al-Faqih Ahmad bin Rumailah Al-Qurthuby bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ.


Dalam mimpinya Rasulullah berkata: “Kalian pasti menang, dan engkau aka bertemu denganku.” (Raghib As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, terj. Muhammad Ihsan dan Abdul Rasyad Shiddiq (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2015). Tepat hari Jum’at 12 Rajab 479 H/ 22 ktober 1086 M Bumi Andalusia menyaksikan semangat jihad dan ghiroh yang memenuhi dada umat muslim.


Para pemimpin bersatu dibawah kalimat yang sama “Laa ilaha illallah”. Dugaan Yusuf Bin Tasyfin terbukti, ternyata benar Raja Alfonso VI ingin berbuat makar.


Alfonso VI ingin menyerang pasukan Muslim secara tiba-tiba. Namun semua di luar dugaan Raja Alfonso VI, ternyata pasukan Muslim telah bersiap-siap menghadapi serangannya.


Hari itu, Raja Alfonso VI membawa ±50.000 pasukan untuk menyerang pasukan Muslim di daerah Zallaqoh (yang kemudian juga sering disebut perisitiwa Zallaqoh, yang artinya tempat licin, di dekat Badajoz. Setelah ia mendapat bantuan dari kerajaan-kerajaan Kristen yang berada di Prancis, Italia, dan negara-negara basis Kristen lainnya.


Alfonso VI tampil di depan pasukan dengan membawa papan salib dan gambar Yesus seraya mengatakan dengan congkak, “Dengan pasukan ini aku akan perangi jin dan manusia. Akan aku perangi sekalian malaikat-malaikat yang ada di langit.”   p. 572).


Sementara pasukan Muslim berjumlah ±20.000 (Sebagian penulis menyebut 300 ribu) menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan pasukan Nasrani. Pasukan Muslim menghadapi serangan pasukan Nasrani dengan penuh semangat.


Serangan demi serangan terus dilancarkan oleh pasukan Alfonso VI. Pasukan Muslim terus menangkis serangan-serangan dari pasukan Nasrani pimpinan Alfonso VI.


Pertempuran Zallaqah berakhir dengan kemenangan berada di tangan pasukan Muslim. (Raghib As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, terj. Muhammad Ihsan dan Abdul Rasyad Shiddiq…). Yusuf Bin Tasyfin akhirnya kembali ke Andalusia, dengan firasat yang mengatakan bahwa Abdul ‘Abbas Ahmad Al-Mu’tamid ‘Alallah akan berkhianat Yusuf Bin Tasyfin.


Yusuf Bin Tasyfin memberi peringatan terhadap Abdul ‘Abbas Ahmad Al-Mu’tamid ‘Alallah untuk dapat mengembalikan persatuan umat Muslim di wilayahnya. Abdul ‘Abbas Ahmad Al-Mu’tamid tidak mau mengiyakan perintah Yusuf Bin Tasyfin dikarenakan kekuasaannya bakal dilengserkan oleh Yusuf Bin Tasyfin. (Raghib As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia,…p. 580).


Dengan demikian Dinasti Al-Murabithun dimasa pemerintahan Yusuf bin Tasyfin memiliki imperium yang sangat luas, mulai dari wilayah Maghribi, sebagian Afrika hingga Andalusia. Berbagai kegemilangan yang dicapai di Andalusia, Yusuf Bin Tasyfin mampu menguasai sedikit demi sedikit kota-kota yang berada di wilayah Andalusia, seperti;  Granada, Sevilla, Cordoba, dan kota-kota lainnya.


Pada waktu itu di Cordoba masih berkuasa Amir Al-Mu’tamid namun akhirnya Amir Al-Mu’tamid ditawan dan dibawa ke afrika karena telah berkhianat kepada Yusuf Bin Tasyfin. (Osman A Latif, Ringkasan Sejarah Islam II (Jakarta: Widjaya, 1979). Yusuf Bin Tasyfin ketika berkuasa di Andalusia lebih memilih kota Sevilla dari pada Cordoba, sebagai ibu kota kedua.


Para raja Murabithun mempertahankan semua otoritas penguasa dan penyandar geral Amir al-Muslimin, tetapi dalam persoalan spiritual Yusuf Bin Tasyfin beserta para raja Murabithun mengakui otoritas Khalifah Abbasiyah di Bagdad.


Selama lebih dari setengah abad kekuatan Murabhitun begitu kuat di Afrika Barat Daya dan Spanyol Selatan. Dalam sejarahnya, ini merupakan pertama kalinya dimana seorang Berber memainkan perang di panggung dunia.


Dinasti Murabhitun pada masa Yusuf Bin Tasyfin memiliki daerah kekuasaan yang begitu luas di Afrika Utara hingga Andalusia (Spanyol). Kekuasaan Yusuf bin Tasyfin berlangsung dari tahun 1061 M hingga 1107 M.


Yusuf Bin Tasyfin bergelar Amir Al-Muslimin dan Nasiruddin. Dalam upaya melegitimasi serta memperkuat kekuasaannya, Yusuf Bin Tasyfin meminta pengakuan dan restu dari Khalifah Abu Al ’Abbas As-Saffah Bin Muhammad Bin Ali Bin Abdullah Bin Abbas Bin Abdul-Muththalib di Baghdad, Iraq. (Yusuf Ibn Tasyfin: Penegak Syiar Islam di Andalusia, REPUBLIKA, Jum’at, 05 September 2020).


Diakhir hayatnya, Yusuf Bin Tasyfin pulang ke Maghribi dan tinggal di Istananya, di Marakesh (Maroko). Sehingga Yusuf Bin Tasyfin jatuh sakit dan  Meninggal pada hari Senin pagi, tanggal 1 Muharram tahun 500 H atau  1 September 1017 M di usia 100 Tahun (1 Abad).


Ia dimakamkan di Ibu Kota kaum Murabhitun, yaitu Marakesh. Lebih jauh kiprah Yusuf Bin Tasyfin dalam Perang Zallaqah menarik untuk digali kembai.*/ diambil dari Siti Suryati, “Kiprah Yusuf Bin Tasyfin Dalam Perang Zallaqah Pada Masa Dinasti Murabithun Tahun 479 H/ 1086 M”, Diploma atau S1  UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten


Rep: Admin Hidcom

Editor: Insan Kamil



The post Mengenal Pertempuran Zallaqah:  Perang Menumpas Makar Raja Alfonso VI appeared first on Hidayatullah.com.






source https://hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2022/10/24/238864/mengenal-pertempuran-zallaqah-perang-menumpas-makar-raja-alfonso-vi.html

0 Komentar

zumardiidra03
295
© Copyright 2023 - Bakal Beda